Kepulan Asap Tebal Masih Terlihat di Tangkuban Parahu

oleh -614 views

JAKARTAPEDIA.id-Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan, kepulan asap  berwarna putihdengan intensitas tipis hingga tebal masih terlihat jelas di kawah utama Gunung Tangkuban Parahu, Selasa (30/7/2019) pagi. Untuk itu, pihaknya menghimbau masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu agar tetap berhati-hati.

“Pada status tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih merekomendasikan agar masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu, pedagang, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan mendekati Kawah Ratu dan Kawah Upas dengan radius 500 meter,” ujar Plh. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo, di Jakarta, Selasa (30/7/2019).

Menurutnya, masyarakat juga tidak diperbolehkan menginap dalam kawasan kawah-kawah aktif yang ada di dalam kompleks Gunung Tangkuban Parahu. Dia berharap, masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata Gunung Tangkuban Parahu agar mewaspadai meningkatnya konsentrasi gas gas vulkanik dan dihimbau tidak berlama-lama berada di bibir kawah aktif Gunung Tangkuban Parahu agar terhindar dari paparan gas yang dapat berdampak bagi kesehatan dan keselamatan jiwa.

“Agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala vulkanik yang jelas,” ucapnya.

Dikatakan Agus, Hingga hari Selasa (30/7/2019) Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu masih ditutup oleh pihak pengelola. Penutupan kawasan dititikberatkan pada aspek keselamatan manusia.

Masih Ditutup

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, penutupan itu dilakukan sebagai langkah yang terbaik untuk keselamatan manusia. Pada saat berkunjung ke lokasi terdampak, Ridwan memberikan arahan bahwa sebelum dibuka akan dipastikan terlebih dahulu rekomendasi yang diberikan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Di sisi lain, pihaknya akan mengevaluasi terkait dengan jalur evakuasi dan sistem _standard operating procedure_ (SOP) untuk mengantisipasi ancaman bahaya erupsi.

“Jalur evakuasi akan dievaluasi. Hari ini akan melihat secara langsung di lapangan. Jalur dan sistem SOP akan dibahas. Apabila sudah mendapatkan informasi lengkap akan dibahas esok,” ucap Ridwan.

Ridwan meminta semua pihak terkait dengan berlakunya penutupan kawasan wisata sekitar Gunung Tangkuban Parahu. Menurutnya, pascaerupsi tersebut berpengaruh pada tiga dimensi yaitu lingkungan, sosial dan ekonomi.

Dari sisi pedagang, Ridwan meminta mereka untuk menunggu berita dari pemerintah daerah setempat. “Bagaimana yang terbaik untuk semua orang. Kita tunggu dari pemerintah,” ujar Ridwan.

Sementara itu, pascaerupsi sering terjadi berita yang simpang siur dan memicu kepanikan masyarakat. Untuk itu, Ridwan menekankan pada aspek edukasi yang bersifat dua arah, baik dari pengelola maupun masyarakat. Masyarakat diminta untuk tidak mendramatisasi situasi tertentu.

“Kadang komentar-komentar yang sensitif harus dikurangi, karena semua orang punya media sekarang,” tambah Ridwan.

Terkait dengan kemungkinan adanya informasi yang simpang siur, Ridwan mengimbau masyarakat selalu merujuk informasi pada lembaga yang resmi, seperti pemerintah daerah atau lembaga kebencanaan.

Pascaerupsi pada Jumat lalu (26/7) PVMBG masih menetapkan Gunung Tangkuban Parahu pada status Level I (Normal). Gunung dengan ketinggian 2.084 m dpl tersebut mengalami erupsi yang bersifat freatik. Erupsi yang terjadi sekitar pukul 15.48 WIB itu terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 50 mm (overscale) dan durasi ± 5 menit 30 detik. (tama)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *