Tidak Punya Hati Nurani! Muhammad Subur Kerja 35 Tahun di YAPIMDA Diputus Tanpa Pesangon

oleh -431 views
Muhammad Subur (62 th). Korban pemutusan hubungan kerja dari Yapimda, tanpa diberikan hak-hak-nya. (ist)

JAKARTAPEDIA.id – Malang benar nasib Muhammad Subur (62 th). Lebih dari separuh hidupnya telah diabdikan untuk bekerja di Yapimda (Yayasan Pendidikan Islam Miftahul Huda), yang sekarang berubah menjadi Perguruan Yapinda I, tapi pengabdian dan loyalitasnya tak dihargai.

Saat telah memasuki masa pensiunnya, serta merta dia diputus secara sepihak oleh Yayasan. Gaji yang biasanya diterima tiap bulan dan ditransfer otomatis lewat peroll mendadak terhenti. Begitu juga dengan aktifitas dia mengajar terhenti. Karuan saja hal itu membuat gundah dan bingung. Selidik punya selidik ternyata dia telah dibebas tugaskan oleh Yayasan.

Dia sendiri sebenarnya tidak mempermasalahkan kalau harus berhenti bekerja dari Yayasan tersebut. Toh, usianya pun telah mencapai masa pensiun. Namun, seharusnya pihak Yayasan juga peduli akan hak-haknya sebagai seorang pensiunan. Ada uang pesangon dan wujud tali asih lainnya.

Tapi boro-boro uang pesangon, Jamsostek dan Tunjangan Hari Tua saja tidak ada. Bahkan selama masa Pandemi Covid-19 dia hanya menerima gaji Rp 841.000,- per bulannya. Jauh dibawah UMR DKI Jakarta.

Dia sebenarnya ingin bicara baik-baik. Untuk itu dia langsung membuat surat tertulis yang ditujukan kepada Pimpinan Yayasan. Tapi sama sekali tidak ada tanggapan. Begitu juga saat berkomunikasi lewat whatsApp, sama sekali tidak mendapat respon.

Dia yang telah bekerja dengan baik sejak tahun 1985 hingga akhir tahun 2020 tidak dihargai sama sekali. Pengabdiannya selama 35 tahun terkesan sia-sia. Semua tak jadi pertimbangan Yayasan untuk mengambil keputusan bijak.

“Cukup disayangkan, Yayasan yang namanya sangat indah ini justeru terlihat buruk di mata pekerjanya. Sangat jauh dibandingkan Yayasan serupa, yang mana ada pensiunan Tukang Sapu dan baru bekerja 12 tahun saja, tapi sudah mendapat uang pesangon Rp 80 juta, ” kata Subur mencoba sabar untuk membandingkan pensiunan pekerja tukang sapu dari Yayasan lain di tempat sekitar lingkungannya bekerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *