Strategi Anies Atasi Ketimpangan Pelayanan Air Bersih di Jakarta Ajukan Subsidi Rp 33,68 Miliar

oleh -59 views

JAKARTAPEDIA.id – Ketimpangan dalam mendapatkan pemenuhan air bersih masih ada di wilayah Jakarta.

Untuk mengatasinya, Pemprov DKI Jakarta berusaha meningkatkan cakupan air bersih kepada masyarakat Jakarta. Caranya, dengan pelayanan air minum perpipaan dengan harga yang lebih terjangkau dan bisa diakses semua wilayah termasuk di kepulauan seribu.

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. (ist)

Menurut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, masalah paling mendasar yang dihadapi warga dengan kemampuan ekonomi rendah adalah mereka harus membayar mahal demi bisa mendapatkan air bersih.

Sementara kelompok masyarakat ekonomi menengah ke atas justru mendapatkan harga yang lebih murah.

“Bagi mereka yang secara status sosial ekonomi tinggi, itu biaya perolehan airnya lebih murah dibandingkan rakyat yang sosial ekonominya lemah, justru biaya yang dikeluarkan terhadap air itu sering tinggi,” ucap Anies dalam diskusi Balkoters Talk dengan tema “Pelayananan Merata Air Minum Jakarta” yang digelar secara virtual, Rabu (1/9/2021).

Untuk mengatasi masalah tarif ini, pihaknya telah mengajukan subsidi penggunaan air bersih sebesar Rp 33,68 miliar pada APBD Perubahan tahun 2021 dan APBD 2022 yang layanannya disediakan oleh PAM Jaya.

Dengan adanya subsidi ini, warga di Kepulauan Seribu yang sebelumnya harus membayar Rp 32.500 per meter kubik air sekarang menjadi Rp 3.500 per meter kubik. Turunnya hampir 90 persen sehingga membayar hanya kurang lebih 10 persen.

“Begitu juga dengan warga Jakarta yang di daratan, ketika membeli air penjual gerobak ini mereka membayar sekitar Rp 70.000 per meter kubik. Kira-kira untuk satu bulan itu mereka keluarkan Rp 600.000 per bulan untuk konsumsi air bersih,” jelasnya.

Selain mengurangi tarif, pihaknya melalui PAM Jaya juga telah menyediakan kios air di daerah yang belum terjangkau air perpipaan.

Sementara untuk di Kepulauan Seribu, pihaknya menggunakan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) yang bisa mengubah air laut menjadi air siap minum.

Dengan beralihnya masyarakat memanfaatkan kios air, maka dampak positifnya mereka akan mendapatkan tarif yang lebih terjangkau dan mengurangi efek penurunan tanah.

“Subsidi, SWRO, dan kios air adalah solusi jangka pendek. Ini bukan solusi permanen. Kita harus terus-menerus mengikhtiarkan solusi yang permanen yang lebih sustainable, yaitu jaringan perpipaan dan pemanfaatan sumber daya air,” pungkasnya. (dra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *