Meski Kluster Covid di Sekolah Bermunculan, Menteri Nadiem: PTM Terbatas Tidak akan Dihentikan

oleh -9 views
Nadiem Makarim. (ist)

JAKARTAPEDIA.id – Sejumlah klaster penyebaran Corona yang diduga dipicu pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah mulai bermunculan. Mendikbudristek Nadiem Makarim mengatakan belajar tatap muka di sekolah tak akan disetop.

“Itu terus kita monitor, itu temuannya. Bukan berarti PTM-nya akan diundur, masih harus jalan, terbuka, tapi sekolahnya masing-masing kalau ada kasus klaster ya harus ditutup segera, memang seperti itu,” kata Nadiem di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (23/9/2021) kemarin.

Nadiem mengatakan tidak akan menghentikan belajar tatap muka meski klaster Corona di sekolah mulai bermunculan. Menurutnya, sekolah bakal ditutup sementara jika ada klaster Corona yang ditemukan.

“Tidak, tidak (dihentikan). PTM terbatas masih dilanjutkan, prokes harus dikuatkan dan sekolah-sekolah di mana ada situasi seperti itu harus ditutup segera sampai aman,” ujar Nadiem.

Sebelumnya, situs Kemendikbudristek membeberkan data soal klaster Corona saat pembelajaran tatap muka (PTM) di Jakarta. Ada 25 klaster Corona yang disebut terjadi di Jakarta selama belajar tatap muka digelar.

Soal data kasus positif COVID-19 saat PTM di Jakarta itu tertera dalam situs Kemendikbud sekolah.data.kemdikbud.go.id.

Di laman itu ada indeks PTM dan indeks siap PTM. Ada juga infografis PTM, infografis kendala, dan infografis klaster.

Data kasus Corona saat PTM ada dalam bagian infografis klaster. Sumber data itu dari aplikasi Survey Sekolah yang diambil per 22 September 2021.

Masih dari laman itu, terlihat data yang menyebut 25 klaster sekolah di Jakarta dari total 900 responden sekolah. Perinciannya, sebanyak 227 pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) dan 241 peserta didik (PD) positif COVID-19.

Situs itu juga bisa melihat data klaster di provinsi lain. Jika dalam skala nasional, total ada 1.302 klaster pada PTM.

Plt Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kemendikbudristek Anang Ristanto membenarkan data yang tertera merupakan data dari situs Kemendikbud. Namun kebenarannya perlu diverifikasi, seperti yang dilansir dari detik.com.

“Data tersebut benar dari sekolah.data.kemdikbud.go.id, namun data yang masuk tersebut perlu kami verifikasi terlebih dahulu kebenarannya,” ujar Anang, Rabu (22/9/2021). (ist/jek)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *