Penambang Tungau di Toboali Memohon Kebijakan yang Pro Rakyat, Junaidi: Jika Tidak, Kami Sampaikan Aspirasi Melalui Asap Ban yang Terbakar

oleh -2.727 views
Persatuan Penambang Tungau Bangka Selatan menggelar jumpa pers menyatakan sikap pada Jumat (17/9/2021). (foto: bedi)

BANGKA SELATAN, BANGKA BELITUNG (JAKARTAPEDIA.id) – Akibat kerap ditertibkannya aktivitas penambangan timah jenis Sebu – sebu (Tungau), di perairan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, belakangan ini, mendapat respon keras dari Persatuan Penambang Tungau Bangka Selatan. Mereka meminta kebijakan aparat yang pro rakyat, karena mereka mengais rezeki sebagai Penambang Tungau untuk menghidupi keluarga.

Pernyataan sikap dari Persatuan Penambang Tungau Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung digelar Jum’at (17/9/2021) pukul 14.20 WIB yang dikomandoi  Junaidi, S.Pd selaku Ketua kepada sejumlah media yang hadir dalam jumpa pers tersebut.

“Kurangnya lapangan kerja yang disediakan Negara, meningkatnya harga Kebutuhan dasar, utang pendidikan anak, biaya berobat yang belum gratis, ditambah kurangnya lahan untuk menambang, membuat masyarakat terpaksa melakukan aktivitas pencarian rezeki halal mereka di perairan laut Toboali yang konon katanya ilegal. Sehingga kami pun harus dikejar-kejar apparat dalam mengais rezeki,” jelas Junaidi, S.Pd selaku Ketua Persatuan Penambang Tungau Bangka Selatan.

Dalam rilisnya, dia menjelaskan, ilegalnya aktivitas para Penambang Tungau ini karena faktor alat yang dipergunakan dan lokasi tambang yang kemudian diketahui sebagai kawasan Pertambangan milik PT.TIMAH Tbk. “Walhasil,  perut rakyat diadu dengan aparat yang membuka kembali pintu yang baru saja hampir tertutup yaitu PINTU KEMELARATAN,” katanya kesal.

Tak pelak, sambungnya, penertiban kerap dilakukan aparat penegak hukum yang dengan segala keyakinan bahwa mereka pun tak mau melakukannya, tetapi terpaksa harus terjadi. “Kami sangat paham bahwa dalam keadaan ini terdapat dilemma oleh petugas. Karena semua kita tahu bahwa saat rakyat melakukan penambangan ilegal, ada dua kebijakan yang bisa diambil, yakni tertibkan penambangnya atau legalkan penambangnya. Eloknya, yang bijak dan takut neraka pasti memilih kebijakan yang kedua,” tandas Junaidi lagi.

Lebih lanjut katanya, dengan pelarangan dan penertiban penambang Tungau yang hanya sekedar mencari rezeki untuk bertahan hidup, bukan untuk memperkaya diri ini menjadi menimbulkan pertanyaan-pertanyaan diantarany Apakah Tuhan YME menciptakan laut hanya untuk dikuasai PT.TIMAH? Apakah Pimpinan PT. TIMAH mau bergantian posisi dengan Penambang Tungau? Apakah PT.TIMAH senang melihat masyarakat Toboali miskin? Apakah Presiden, Gubernur, Bupati dan para Dewan yang terhormat tidak tahu keadaan ini?

“Apakah gaji telah menutup mata mereka sehingga tak lagi dapat membaca kenapa Indonesia wajib Merdeka? dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari anak Penambang Tungau,” katanya lirih.

Berdasarkan hal tersebut di atas, mereka yang tergabung dalam Persatuan Penambang Tungau Bangka Selatan menyatakan sikap yaitu:

  1. Jangan Benturkan Perut Rakyat dengan Aparat.
  2. Saat perut rakyat terhalang regulasi, maka berikan kebijakan.
  3. Izinkanlah para Penambang Tungau untuk mengais rezeki yang halal di perairan laut Toboali.

“Demikianlah harapan kami yang tercantum dalam pernyataan sikap. Atas nama sesama mahluk Tuhan YME yang pasti mati, kami mohon dengan sangat agar permohonan kami diindahkan. Kebijaksanaan yang diberikan kepada para Pebambang Tungau akan berbuah amal jarriyyah.amin Ya Robbal ‘alamiiin,” harap Junaidi yang diamini rekan-rekannya.

“Namun bila permohonan yang kami sampaikan melalui jumpa pers ini tidak berbuah kebijakan yang pro-rakyat, maka kami bersama ribuan keluarga Penambang Tungau memaksakan diri untuk menyampaikan aspirasi melalui asap ban yang terbakar,” tutupnya. (bedi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *