Tuna Netra Indonesia Masih Terpinggirkan Soal Hak Mendapatkan Pekerjaan Layak

oleh -158 views
Ilustrasi Tuna Netra. (ist)

JAKARTAPEDIA.id – Walaupun pemerintah menyatakan bahwa akan ada kesetaraan untuk kaum disabilitas, namun hal itu tampaknya belum terasa. Pasalnya, mereka masih tetap menjadi tukang urut atau bahkan tukang kerupuk yang selama ini memenuhi beberapa wilayah di Jakarta.

Seperti yang dirasakan Hamzah (38), tuna netra yang selama ini kesulitan mencari pekerjaan. Meski ditangannya sudah dipegang ijazah SMA dan beberapa sertifikat, namun kenyataannya hal itu tak semudah membalikan telapak tangan. “Mau melamar kerja dengan keterbatasan yang saya miliki tetap saja tidak membuahkan hasil,” katanya, seperti dilansir Selasa (2/7/2019).

Ia menilai citra penyandang tunanetra di Indonesia hanya bisa berprofesi sebagai tukang urut dan pedagang kerupuk, yang merupakan profesi identik bagi mereka. “Ya mau bagaimana lagi, memang sudah seperti ini,” ujarnya.

Hamzah menilai, ia pun mempertanyakan apa yang selama ini pemerintah sampaikan melalui UU No 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Dimana dalam undang-undang tersebut, hak kami sudah dijamin tapi realitanya penyandang disabilitas masih sulit mencari kerja yang layak.

“Secara UU memang kita ada kuotanya, tapi tetap saja susah. Kadang kita ditolak sebelum diberi waktu memperlihatkan kemampuan kita,” kata pria yang tinggal di kawasan Kramatjati, Jakarta Timur ini.

Hamzah menambahkan, 70 persen perusahaan di Indonesia masih memandang rendah kemampuan yang mereka miliki. Padahal pengalaman telah dirasakan penyandang disabilitas lain, khususnya di Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni). “Ditempat itu kami diberi banyak pelatihan agar bisa setara dengan warga biasa,” ungkapnya.

Hamzah mengaku, sejumlah teman yang juga tuna netra kerap melamar untuk posisi operator. Namun seiring penolakan dan umur yang kian tua mereka lebih fokus bekerja jadi tukang urut. “Teman-teman penyandang disabilitas lain juga merasa sulit, mungkin karena saya cuman lulusan SMA dan enggak bisa komputer. Tapi teman yang bisa mengoperasikan komputer saja ada yang jadi tukang urut juga,” ujarnya.

Pelatihan kerja yang seharusnya diberikan setiap Pemerintah Daerah (Pemda), dirasa Hamzah kurang banyak membantu. Karena selama ini pelatihan yang diberikan hanya sebatas kemampuan dasar. “Saya sering ikut pelatihan pijat, komputer, segala macam tapi pas melamar kerja enggak terlalu berguna karena yang dilihat ya kemampuan,” tuturnya.

Atas apa yang terjadi selama ini, Hamzah berharap penyandang disabilitas generasi muda sekarang bercinta-cita tinggi dan percaya mereka bisa mewujudkannya. Cara terbaik mendapat pengakuan masyarakat dengan cara membuktikan bahwa penyandang disabilitas tetap mampu bersandar secara kemampuan.

“Untuk disabilitas yang masih muda harus punya cita-cita tinggi, mereka harus yakin bisa mewujudkan cita-citanya. Mental dan kepercayaan diri mereka harus tinggi, jangan mau dianggap remeh,” ungkapnya.

Pria yang kehilangan penglihatan di usia 7 tahun ini percaya penyandang disabilitas muda sekarang mampu menggapai cita-citanya. Terlebih, akses pendidikan sekarang lebih baik dibanding zamannya karena saat ini ada sekolah inklusi, sekolah luar biasa, dan berbagai Yayasan pendidikan. “¹Kalau dulu waktu zaman saya enggak ada, apalagi di pelosok. Saya kecil di Makassar, di sana tempat pelatihan pijat saja enggak ada,” ujarnya.

Hamzah juga berharap pemerintah terus mendukung penyandang disabilitas yang ingin belajar. Caranya dengan memberi kemudahan akses sekolah dan berbagai pelatihan sesuai kemampuan disabilitas. “Tanpa dukungan pemerintah niat menempa diri dengan belajar bakal sulit, terlebih bila kondisi keluarga anak tersebut kesulitan secara ekonomi,” sambungnya.

Bila sukses kelak, Hamzah berharap generasi muda tersebut mau membantu penyandang disabilitas lain yang masih kesulitan. Dengan cara memberi bantuan materi dan non materil berupa pelatihan ketrampilan. “Karena kalau bukan kita lagi yang saling membantu, siapa lagi uang peduli dengan para penyandang disabilitas,” pungkasnya.(*/pkc)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *